Sabtu malam, saya pulang ke rumah setelah jaga toko yang
dilanjutkan dengan sebuah pertemuan hingga malam hari. Untung, saya pada hari
itu bepergian dengan menggunakan ojek karena, sampai di jalan masuk dekat
rumah, sudah penuh tertutup manusia. Ada pengajian. “Here we go again, “ saya
membatin. Kalau saya pakai mobil malam itu, pasti akan harus berputar dan
melewati jalan yang lebih sempit dan lebih susah dalam memanuver mobil masuk ke
jalan kecil didepan rumah.
Malam makin larut. Menjelang jam 11 malam, saya masih dengar
sang penceramah dengan menggunakan sistem tata suara yang distel maksimal,
berteriak-teriak soal haram memilih pemimipin non-muslim. Ya Allah, Gusti nu
agung… Harus banget nih, menjelang tengah malam jerit-jerit soal politik yang
dibungkus agama? Nggak lama setelah itu, ceramah, yang entah berlangsung berapa
jam itu, akhirnya selesai, namun disambung dengan bunyi-bunyi kembang api dan
petasan yang luarbiasa kerasnya. Gini ya, ini pemukiman padat penduduk dengan
gang-gang kecil yang membelah antara lajur-lajur rumah. Kebayang nggak, gimana
sangat mengganggunya suara-suara itu? Anjing-anjing yang saya pelihara, panik ketakutan.
Ada yang sampai buang kotoran dimana-mana saking stress-nya.
Lalu saya ingat, tadi pagi, ketika saya berangkat, hanya
beda dua gang dari rumah saya, ada yang sedang berduka cita. Sungguh nggak bisa
saya bayangkan, bagaimana perasaan keluarga yang sedang berdukacita tersebut
dengan ulah sang tetangga yang sepertinya tidak peduli dengan musibah yang
sedang dialami mereka. Kalau argumennya mereka nggak tahu, come on, lha wong di
setiap ujung jalan ada bendera kuningnya kok. Saya juga nggak mengerti dengan
Ketua RT atau Ketua RW yang sepertinya membiarkan ini terjadi. Mungkin, mereka
takut juga untuk mengingatkan, karena takut dicap menghalang-halangi kegiatan
keagamaan.
Agama diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia. Tapi jika
kegiatan keagamaan itu mengganggu kenyamanan kehidupan masyarakat, apalagi
sampai tidak mengindahkan perasaan orang lain, menurut saya sudah tidak lagi
untuk kemaslahatan umat manusia. Agama hanya dipakai sebagai alat pemuas ego
untuk berbuat seenaknya dan berteriak semaunya tanpa takut dipersalahkan.
Orang-orang dibuat takut dengan membawa nama agama, sehingga sekalipun merasa
terganggu dan tersakiti hatinya, harus ditelan begitu saja seperti pil pahit
karena takut diamuk massa yang “katanya” beragama ini. Terus terang, saya juga
takut kalau pada malam itu saya datang dan protes karena merasa terganggu.
Tapi, membiarkan hal ini juga sama saja dengan membiarkan pembodohan masyarakat
dengan menggunakan agama sebagai alat.
Kita sering menyatakan perang terhadap komunisme karena
dianggap ingin mengeyahkan agama-agama di dunia. Tapi sadar nggak sih, dengan
kelakuan yang seenaknya, tidak mengindahkan tepa selira den kadang-kadang
beringas, justru kita memupuk paham anti-agama itu sendiri. Agama yang
seharusnya membawa keselamatan bagi manusia, justru menjadi petaka karena cara
sebagian orang mengintrepretasi agama dan kitab suci. Jika hal seperti egoisme beragama
ini adalah yang sekarang dianggap menjadi esensi dan kebenaran dari agama, maka
dengan senang hati saya akan memilih untuk tidak beragama.
Karena saya hanya menyembah Tuhan, bukan menyembah agama dan
saya yakin Tuhan ingin agar setiap manusia saling mengasihi dan menyayangi.
Bismillahirrahmannirrahim. Dengan menyebut nama Allah yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika Allah mengasihi dan menyayangi
ciptaannya, apakah manusia lebih hebat dari Tuhan sehingga “tebang pilih” dalam
menyayangi dan mengasihi? Buat apa basmalah kita ucapkan berkali-kali setiap
kalinya, tapi tidak pernah kita ambil maknanya.
Well put, Chorie ...
ReplyDelete