Akhir-akhir ini sedang marak pembicaraan tentang orang-orang
Indonesia yang ke-Arab-araban, yang pemicunya adalah biasanya dengan apa yang
dikenakan para perempuan. Satu pihak nyinyir kenapa perempuan Islam Indonnesia
harus pake jilbab panjang longgar seperti orang Arab, sementara pihak yang lain
sama nyinyir dan ngototnya bahawa yang mereka lakukan adalah semata-mata karena Sunnah
Rasul dengan kata lain, berlindung di balik agama (as if, kalau bawa nama agama, mereka pasti tak terbantahkan).
Saya jadi teringat dulu, waktu saya mau berangkat program
pertukaran pelajar. Terdapat beberapa concern kalau program pertukaran pelajar
adalah suatu upaya westernisasi yang
sistematis, dimana kita terpapar langsung pada kehidupan “dunia barat.” Hal ini
digaungkan dengan sedemikian rupa, seolah-olah, westernisasi adalah sesuatu
yang sangat salah. Kadang-kadang kita lupa kalau sebagian besar yang kita
gunakan adalah produk budaya barat; mulai dari alphabet yang kita gunakan
sampai model baju yang kita pakai. Dunia barat membuka mata kita terhadap sains
dan teknologi sebagaimana memaparkan kita juga pada budaya mereka. Tapi
nyatanya, westernisasi sering dihujat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan
norma-norma kita sebagai bangsa Indonesia atau bangsa Timur.
Perkembangan teknologi memungkinkan kita untuk melihat
banyak hal lain di dunia. Termasuk dunia Arab. Berbondong-bondonglah para
manusia Indonesia ini untuk mengikuti apa yang digunakan oleh mereka di Arab,
dengan mempercayainya sebagai hal yang relijius. Karena ini datangnya dari
Arab, maka siapapun yang menentangnya dianggap menentang agama.
Lha, ini logikanya di mana ya? Budaya Arab adalah budaya yang sama asingnya dengan budaya
Amerika atau Eropa. Tapi kalau baju gamis dianggap suci, gaun malam dianggap
merusak moral, padahal sama-sama produk luar negeri. Hasilnya? Para perancang
busana Indonesia ngos-ngosan mempertahankan ciri khas Indonesia dengan
mengaplikasikannya ke unsur barat, maupun ke unsur Arab. Keaslian tradisi
daerah pada akhirnya harus mengalah untuk menjadi modern.
Salah? Tidak juga. Segala sesuatu di dunia itu berevolusi.
Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, perubahan adalah sebuah sunatullah.
Lalu kenapa kita harus ribut-ribut? Saya pikir ada dua masalah utamanya:
1. Kita hanya melihat sesuatu dari luarnya saja.
Seperti fenomena puncak gunung es, kita senangnya hanya bereaksi atas apa yang
kita lihat di permukaan. Senang sekali meniru gaya berpakaian, tapi bukan
pemikiran. Pakai gamis yang budaya Arab dianggap lebih suci dibandingkan dengan
memakai jas yang budaya barat, karena dianggap itulah pakaian yang dikenakan
oleh Rasulullah. Tapi coba, lebih penting mana: meniru keteladanan dan akhlak
Rasulullah atau cara berpakaiannya? Pakai baju seksi seperti Lady Gaga dianggap
lebih cool dibandingkan pakai kebaya. Padahal, bukankah lebih baik meniru kerja
kerasnya daripada pakaiannya? Hari Kartini dirayakan dengan karnaval
menggunakan baju daerah, bukan dengan mengupas pemikiran beliau.
2. Kita tidak pandai memilah antara “konsep
salah/benar” dengan “beda.” Jika kita merangkul perbedaan sebagai suatu
sunatullah, tentunya kita tidak harus bersitegang untuk masing-masing berpegang
teguh bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Allah sendiri pada QS AR RUM:22
dan QS AL HUJURAT:13 telah menegaskan perbedaan tersebut. Orang-orang dengan
budaya yang berbeda bukan berarti amoral. Perempuan dengan jilbab panjang bukan
berarti fundamentalis, sebaliknya, perempuan yang memakai bikini di pantai
bukan berarti murahan. Perbedaan pendapat adalah wajar, asalkan kita tidak
mengkalim bahwa pendapat kitalah yang paling benar. Culture is something that
is logically inherited. Artinya, budaya adalah sesuatu yang dipelajari, bukan
sesuatu yang alami. Oleh karenanya, konsep baik-buruk, sopan-tidak sopan, pasti
berbeda antara budaya satu dengan lainnya. Apakah budaya Arab lebih baik
daripada budaya Barat? Yang pasti keduanya berbeda, seperti budaya Indonesia
pun berbeda dari budaya Amerika, Eropa, Arab dan wilayah-wilayah lainnya.
Globalisasi membuat kita harus
lebih cerdas. Disaat kita saling mencibir cara berpakaian, orang lain sudah
berpikir untuk menciptakan pakaian dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Globalisasi akan membawa kita terpapar pada berbagai hal yang berbeda. Budaya
dan nilai-nilai pasti akan bergeser. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi
hal ini, tanpa harus kehilangan identitas diri. Mari kita bertahan pada "isi" bukan "bungkus."