Friday, July 22, 2016

Westerninsasi, Arabisasi, Globalisasi

Akhir-akhir ini sedang marak pembicaraan tentang orang-orang Indonesia yang ke-Arab-araban, yang pemicunya adalah biasanya dengan apa yang dikenakan para perempuan. Satu pihak nyinyir kenapa perempuan Islam Indonnesia harus pake jilbab panjang longgar seperti orang Arab, sementara pihak yang lain sama nyinyir dan ngototnya bahawa yang mereka lakukan adalah semata-mata karena Sunnah Rasul dengan kata lain, berlindung di balik agama (as if, kalau bawa nama agama, mereka pasti tak terbantahkan).

Saya jadi teringat dulu, waktu saya mau berangkat program pertukaran pelajar. Terdapat beberapa concern kalau program pertukaran pelajar adalah suatu upaya westernisasi yang sistematis, dimana kita terpapar langsung pada kehidupan “dunia barat.” Hal ini digaungkan dengan sedemikian rupa, seolah-olah, westernisasi adalah sesuatu yang sangat salah. Kadang-kadang kita lupa kalau sebagian besar yang kita gunakan adalah produk budaya barat; mulai dari alphabet yang kita gunakan sampai model baju yang kita pakai. Dunia barat membuka mata kita terhadap sains dan teknologi sebagaimana memaparkan kita juga pada budaya mereka. Tapi nyatanya, westernisasi sering dihujat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma kita sebagai bangsa Indonesia atau bangsa Timur.

Perkembangan teknologi memungkinkan kita untuk melihat banyak hal lain di dunia. Termasuk dunia Arab. Berbondong-bondonglah para manusia Indonesia ini untuk mengikuti apa yang digunakan oleh mereka di Arab, dengan mempercayainya sebagai hal yang relijius. Karena ini datangnya dari Arab, maka siapapun yang menentangnya dianggap menentang agama.

Lha, ini logikanya di mana ya? Budaya Arab adalah  budaya yang sama asingnya dengan budaya Amerika atau Eropa. Tapi kalau baju gamis dianggap suci, gaun malam dianggap merusak moral, padahal sama-sama produk luar negeri. Hasilnya? Para perancang busana Indonesia ngos-ngosan mempertahankan ciri khas Indonesia dengan mengaplikasikannya ke unsur barat, maupun ke unsur Arab. Keaslian tradisi daerah pada akhirnya harus mengalah untuk menjadi modern.

Salah? Tidak juga. Segala sesuatu di dunia itu berevolusi. Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, perubahan adalah sebuah sunatullah. Lalu kenapa kita harus ribut-ribut? Saya pikir ada dua masalah utamanya:

1.  Kita hanya melihat sesuatu dari luarnya saja. Seperti fenomena puncak gunung es, kita senangnya hanya bereaksi atas apa yang kita lihat di permukaan. Senang sekali meniru gaya berpakaian, tapi bukan pemikiran. Pakai gamis yang budaya Arab dianggap lebih suci dibandingkan dengan memakai jas yang budaya barat, karena dianggap itulah pakaian yang dikenakan oleh Rasulullah. Tapi coba, lebih penting mana: meniru keteladanan dan akhlak Rasulullah atau cara berpakaiannya? Pakai baju seksi seperti Lady Gaga dianggap lebih cool dibandingkan pakai kebaya. Padahal, bukankah lebih baik meniru kerja kerasnya daripada pakaiannya? Hari Kartini dirayakan dengan karnaval menggunakan baju daerah, bukan dengan mengupas pemikiran beliau.

2. Kita tidak pandai memilah antara “konsep salah/benar” dengan “beda.” Jika kita merangkul perbedaan sebagai suatu sunatullah, tentunya kita tidak harus bersitegang untuk masing-masing berpegang teguh bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Allah sendiri pada QS AR RUM:22 dan QS AL HUJURAT:13 telah menegaskan perbedaan tersebut. Orang-orang dengan budaya yang berbeda bukan berarti amoral. Perempuan dengan jilbab panjang bukan berarti fundamentalis, sebaliknya, perempuan yang memakai bikini di pantai bukan berarti murahan. Perbedaan pendapat adalah wajar, asalkan kita tidak mengkalim bahwa pendapat kitalah yang paling benar. Culture is something that is logically inherited. Artinya, budaya adalah sesuatu yang dipelajari, bukan sesuatu yang alami. Oleh karenanya, konsep baik-buruk, sopan-tidak sopan, pasti berbeda antara budaya satu dengan lainnya. Apakah budaya Arab lebih baik daripada budaya Barat? Yang pasti keduanya berbeda, seperti budaya Indonesia pun berbeda dari budaya Amerika, Eropa, Arab dan wilayah-wilayah lainnya.

Globalisasi membuat kita harus lebih cerdas. Disaat kita saling mencibir cara berpakaian, orang lain sudah berpikir untuk menciptakan pakaian dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Globalisasi akan membawa kita terpapar pada berbagai hal yang berbeda. Budaya dan nilai-nilai pasti akan bergeser. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini, tanpa harus kehilangan identitas diri. Mari kita bertahan pada "isi" bukan "bungkus."

Monday, July 18, 2016

Perempuan dan Islam

Beruntunglah kita yang hidup di Indonesia karena sesungguhnya kita menikmati kebebasan yang seluas-luasnya. Oleh karenanya, saya sering bingung kalau masih saja ada orang-orang warga negara kita yang menjelek-jelekkan negara ini atau pemimpinnya. Mereka dengan bangga membanding-bandingkannya dengan negara-negara Islam dan yakin bahwa itulah yang sebaik-baiknya negara di dunia. Negara-negara dimana perempuan tidak bisa sekolah, negara dimana perempuan tidak bisa menyetir mobil sendiri, negara dimana perempuan tidak diperkenankan bepergian sendiri.

Sungguh lucu kalau melihat kefanatikan manusia-manusia seperti ini sehingga menjadikan mereka bodoh. Bodoh, karena mereka seolah-olah tidak pernah membaca sejarah Islam atau dengan sengaja mengabaikannya.

Perempuan adalah bagian penting dalam sejarah Islam. Istri Rasulullah SAW yang paling sering disebut namanya adalah Khadijah R.A. Kita semua tahu kalau saat beliau hidup, perempuan mulia ini menguasai perniagaan yang besar di Mekkah. Khadijah adalah seorang entrepreneur yang membawahi banyak karyawan laki-laki, termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad SAW sebelum mereka menikah. Sungguh menggelikan jika ada orang-orang yang menganggap perempuan tidak pantas dijadikan pemimpin, sementara Rasulullah tidak pernah mempermasalahkannya, malah menikah dengan “boss” nya. Siapa bilang juga kalau kita tidak bisa mendobrak adat?

“…Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Dia, yang pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah, 'Atiqah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad (SAW) yaitu Abu Thalib…” (https://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid)

Pada saat itu Khadijah sudah memulai usaha agar perempuan bisa mempunyai pendapat sendiri dan bisa memutuskan yang terbaik buat dirinya sendiri. Ketika sekarang perempuan harus tunduk kepada kemauan suaminya, ayahnya atau saudara-saudara laki-lakinya, hal ini merupakan kemunduran lebih dari seribu tahun.

Kita sering mendengar cerita-cerita tentang tokoh-tokoh perempuan Islam di jaman Rasulullah dan dengan bangga menceritakannya kembali, tapi sedikit yang mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut. Ingatkah kita akan cerita dari Khawlah binti Azwar, pejuang perempuan di jaman perang merebut Damaskus? Terus terang, saya anti peperangan dan anti kekerasan, tapi Khawlah adalah perempuan luarbiasa yang mengambil begitu banyak “peran laki-laki.” Jago pedang dan jago berkuda. Namanya tercatat dalam tinta emas sejarah Islam. Sungguh sayang jika kita memuji kepahlawanan perempuan yang jago berkuda ini, tapi kita tidak membolehkan perempuan untuk menyetir dan bepergian sendirian kemana-mana.

Kesetaraan perempuan dan laki-laki jelas tercatat dalam sejarah Islam, namun adat kita yang sangat patriarki seolah-olah membuat kita menyingkirkan pengakuan terhadap kesetaraan ini. Kisah tentang Nailah binti al-Farafishah, istri Utsman bin Affan, misalnya. Alih-alih membesarkan cerita tentang intelektualitas perempuan ini, yang dibesarkan justru adalah tentang pengabdiannya kepada suami. Seolah-olah perempuan kerjaannya hanyalah untuk mengabdi pada suami. Nailah binti al-Farafishah adalah seorang perempuan dengan daya intelektual tinggi, sehingga menjadi teman Ustman bin Affan untuk bertukar pikiran dalam berbagai hal. Dari berbagai literatur saya mendapatkan kutipan dari sang suami “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” ujar Utsman bin Affan. Jika khalifah sahabat Rasulullah saja mendukung dan memuji kepandaian istrinya, siapakah kita yang berani bilang kalau perempuan itu tidak harus pintar? Kenapa kita harus mendukung pendapat yang menyatakan bahwa perempuan itu first and foremost adalah harus taat kepada suami dengan menyampingkan hal-hal lain? Seolah-olah perempuan hanya objek tanpa pernah menjadi subjek.


Buat kalian-kalian yang menganggap hukum di Saudi Arabia atau di Afghanistan adalah yang terbaik, silakan berpikir lagi. Apakah mereka benar-benar telah mengamalkan apa yang telah dicontohkan di jaman Rasulullah SAW atau sekedar mengklaim bahwa yang mereka lakukan adalah Islami.