Mom dan saya, 22 tahun kemudian di Flagstaff, Arizona
Tahun 1993 sampai 1994 saya mendapatkan kesempatan untuk
menjadi siswa pertukaran pelajar di Berwyn, Il, USA. Sebuah pengalaman yang
selanjutnya mengubah hidup dan cara saya memandang dunia.
Sebuah rasa yang luarbiasa ketika pada waktu itu saya
menerima berkas yang berisikan informasi tentang keluarga angkat saya.
Ternyata, saya akan ditempatkan di keluarga dengan orangtua tunggal, seorang
ibu. Lalu saya lihat pekerjaan ibu angkat saya.
Minister.
Saya mulai mengernyitkan muka. Masa sih saya bakal jadi anak
menteri? Maklumlah, Bahasa Inggris masih cetek,
jadi tahunya minister itu menteri. Lalu saya cari tahu lagi, ternyata, ibu
angkat saya adalah pendeta Kristen Protestan Lutheran (minister = pendeta).
Saya lanjutkan baca informasi keluarga angkat saya. Ternyata, rumah yang akan
saya tinggali nantinya berada tepat disamping gereja, karena rumah ini adalah “rumah
dinas” pendeta.
Waduh, sebagai “anak Rohis” yang selalu mendengarkan doktrin
tentang surga dan neraka serta kaum kafir, rasanya agak gentar juga. Nggak cuma
saya akan pergi ke negara dimana saya akan menjadi minoritas, saya akan tinggal
bersama pendeta, pemuka agama lain. “Bismillah aja lah,” saya pikir.
Singkat kata, sampailah saya di “the land of the free and the home of the brave.” Disini saya
bergelut dengan segala doktrin yang sebelumnya telah dijejalkan di dalam kepala
saya. Ternyata konsep salah-benar yang selama ini saya jalankan secara buta,
tidaklah sesederhana warna hitam dan putih.
Mempunyai seorang ibu angkat yang juga adalah seorang
Pendeta Lutheran justru membuat saya ingin lebih memahami agama. Pada saat
beliau belajar menjadi pendeta, ibu angkat saya ini diharuskan belajar mengenai
berbagai agama dan kitab sucinya. Lalu mengalirlah diskusi-diskusi ringan
mengenai agama dan konsep Ketuhanan. Sungguh menyenangkan untk mendapatkan
pandangan dari “lingkaran luar.” Disini saya belajar ke-bhinneka tunggal ika-an yang sesungguhnya. Bahwa diantara berjuta
perbedaan, terdapat pula milyaran kesamaan dalam kebaikan dan kearifan. Bahwa
Tuhan memang dengan sengaja menciptakan keberagaman di dunia, sehingga kita
bisa saling belajar, saling menghormati serta saling mengasihi.
Ibu angkat saya adalah orang yang paling repot ketika saya
sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Setiap hari dia cek, apakah
saya akan punya cukup makanan untuk sahur. Kalau saya tidak terbangun buat
sahur (maklum, saat itu sedang musim dingin, jadi tentunya sungguh jauh lebih
nyaman untuk terus kemulan selimut di
tempat tidur), dia ketuk kamar saya sampai saya bangun dan turun ke dapur untuk
sahur. Dipasangnya juga jadwal imsakiyyah dari Islamic Center setempat di dapur
agar semua orang tahu kapan saya bisa dan tidak bisa makan.
Setelah beberapa bulan tinggal disana, saya mulai rajin
datang ke gereja setiap hari Minggu. Saya penasaran, seperti apa sih, ibadah
mereka di gereja? Sepanjang ingatan saya, tidak pernah sekalipun ibu angkat
saya berkhotbah yang isinya menjelekkan agama lain. Apakah karena beliau tahu
ada saya disana? Mungkin saja. Tapi sepanjang pengetahuan saya, menjelekkan
orang lain bukanlah karakter beliau. Tapi, kalaupun itu tidak beliau lakukan
karena khawatir akan menyakiti perasaan saya, bukankah itu hal yang manis? Beliau
memikirkan perasaan saya, padahal hanya saya sorang diri yang berbeda disana.
Berbeda dengan di kampung sendiri. Kebetulan di Jakarta,
keluarga saya tinggal di lingkungan dimana banyak tetangga kami yang tidak
seagama dengan kami. Hampir setiap shalat Jumat di masjid lingkungan kami,
khutbahnya selalu ada sebutan kafir bagaimana kita harus memusuhi kaum kafir
atau apapun yang tidak Islam (versi sang penceramah) pasti salah dan harus
dihapuskan. Semua dilakukan dengan menggunakan pengeras suara yang distel
maksimum. Sungguh, sering saya ingin lari keluar dan meminta maaf kepada para
tetangga saya atas khutbah-khutbah “militan” yang pastinya menyakitkan hati
mereka.
Ternyata, tinggal dengan pendeta di rumah yang bersebelahan
dengan gereja justru membuat saya lebih nyaman dalam beragama. The feeling of being welcomed and embraced
despite of my differences, gave me the sense of peace. Sungguh nikmat
menjadi berbeda. Patut disayangkan, hanya karena kita di Indonesia adalah
mayoritas, maka kita menjadi jumawa dan mengesampingkan perasaan orang lain dan
hak-hak mereka untuk merasa damai.
