Sunday, May 7, 2017

Pada awalnya, saya termasuk golongan manusia yang sering memandang sebelah mata kepada orang-orang yang memakai celana sematakaki dan memanjangkan janggut. Rasanya kok nggak kelihatan keren dan seperti ingin mendapatkan pengakuan “Lihat dong, ini lho gue, orang saleh.” Juga melihat perempuan-perampuan yang berjilbab panjang a la Arab dengan bahan yang bermutu rendah, sehingga kalau siang hari terik menebarkan semerbak yang “aduhai.” Saya sering berpikir, ini kenapa ya, orang-orang malah cintanya sama budaya Arab, nggak mikir apa untuk melestarikan budaya sendiri?

Tapi kemudian saya berpikir. Perubahan adalah hal yang pasti. Gaya berbusana juga berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan jaman dan arus informasi yang masuk. Kalau kita mau kaji lagi (dan mau jujur), busana tradisional Indonesia juga adalah adaptasi dari berbagai budaya di dunia, yang masuk ke Indonesia lewat perdagangan.

Budaya Cina telah mempengaruhi cara perempuan Jawa berbusana. Dalam foto, terlihat jelas bagaimana budaya Cina mempengaruhi kebaya Jawa. Begitu juga dengan pengarug Cina dalam busana pengantin perempuan Betawi. 
Perempuan Tiongkok
Perempuan Priyayi Jawa
Pengantin Tiongkok
Pengantin Betawi




Contoh budaya lain adalah pengaruh budaya Gujarat. Terlihat foto Raja Jawa yang memakai busana mirip dengan busana Raja Gujarat. Begitu pula dengan pengaruh barat yang menjadikan jas pendek dan dasi kupu-kupu a al tuxedo dipadkan dengan kain jarik batik.

Raja Gujarat

Raja Jawa


Jadi, sebetulnya kalau kita berteriak-teriak tentang Arabisasi, ya sebetulnya kurang pas, karena toh sebelumnya kita sudah pernah menerima dengan tangan terbuka “Cinanisasi” dan “Westernisasi.”

Menurut saya, yang penting adalah menahan diri untuk tidak saling meghujat. Ibu-ibu, mbak-mbak, ceuceu-ceuceu yang menggunakan hijab panjang nggak usah berkoar-koar bahwa yang pakaian yang digunakan adalah yang paling benar dan perempuan muslim yang tidak menggunakannya adalah laknat. Begitu pula dengan yang lain, janganlah serta merta lihat perempuan berjilbab panjang atau laki-laki dengan celana baggy dipotong sebatas mata kaki lalu dicap sebagai fundamentalis yang harus dijauhi. Lalu soal mempertahankan tradisi. Well, tradisi dan budaya Indonesia pun berkembang dan senantiasa berubah. Adalah mustahil untuk mempertahankan busana-busana tradisional persis sama seperti dulu. Kita sering lupa bahwa busana yang kita sebut busana tradisional juga adalah merupakan hasil dari evolusi budaya (dan busana) yang dari awalnya (mungkin) hanya selembar kain penutup badan lalu berkembang menjadi seperti sekarang.

Nggak usahlah kita alergi dengan busana-busana a la Arab, a la Tiongkok, a la barat atau a la apapun. Yang penting adalah memakai busana yang nyaman dan bermartabat serta sesuai dengan waktu dan tempat.

P.S.
Pakai juga bahan yang baik ya, jadi menyerap keringan di negara kita yang tropis ini...

Sunday, February 19, 2017

Rusaknya Rasa Kemanusiaan Dalam Keberagamaan

Sabtu malam, saya pulang ke rumah setelah jaga toko yang dilanjutkan dengan sebuah pertemuan hingga malam hari. Untung, saya pada hari itu bepergian dengan menggunakan ojek karena, sampai di jalan masuk dekat rumah, sudah penuh tertutup manusia. Ada pengajian. “Here we go again, “ saya membatin. Kalau saya pakai mobil malam itu, pasti akan harus berputar dan melewati jalan yang lebih sempit dan lebih susah dalam memanuver mobil masuk ke jalan kecil didepan rumah.

Malam makin larut. Menjelang jam 11 malam, saya masih dengar sang penceramah dengan menggunakan sistem tata suara yang distel maksimal, berteriak-teriak soal haram memilih pemimipin non-muslim. Ya Allah, Gusti nu agung… Harus banget nih, menjelang tengah malam jerit-jerit soal politik yang dibungkus agama? Nggak lama setelah itu, ceramah, yang entah berlangsung berapa jam itu, akhirnya selesai, namun disambung dengan bunyi-bunyi kembang api dan petasan yang luarbiasa kerasnya. Gini ya, ini pemukiman padat penduduk dengan gang-gang kecil yang membelah antara lajur-lajur rumah. Kebayang nggak, gimana sangat mengganggunya suara-suara itu? Anjing-anjing yang saya pelihara, panik ketakutan. Ada yang sampai buang kotoran dimana-mana saking stress-nya.

Lalu saya ingat, tadi pagi, ketika saya berangkat, hanya beda dua gang dari rumah saya, ada yang sedang berduka cita. Sungguh nggak bisa saya bayangkan, bagaimana perasaan keluarga yang sedang berdukacita tersebut dengan ulah sang tetangga yang sepertinya tidak peduli dengan musibah yang sedang dialami mereka. Kalau argumennya mereka nggak tahu, come on, lha wong di setiap ujung jalan ada bendera kuningnya kok. Saya juga nggak mengerti dengan Ketua RT atau Ketua RW yang sepertinya membiarkan ini terjadi. Mungkin, mereka takut juga untuk mengingatkan, karena takut dicap menghalang-halangi kegiatan keagamaan.

Agama diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia. Tapi jika kegiatan keagamaan itu mengganggu kenyamanan kehidupan masyarakat, apalagi sampai tidak mengindahkan perasaan orang lain, menurut saya sudah tidak lagi untuk kemaslahatan umat manusia. Agama hanya dipakai sebagai alat pemuas ego untuk berbuat seenaknya dan berteriak semaunya tanpa takut dipersalahkan. Orang-orang dibuat takut dengan membawa nama agama, sehingga sekalipun merasa terganggu dan tersakiti hatinya, harus ditelan begitu saja seperti pil pahit karena takut diamuk massa yang “katanya” beragama ini. Terus terang, saya juga takut kalau pada malam itu saya datang dan protes karena merasa terganggu. Tapi, membiarkan hal ini juga sama saja dengan membiarkan pembodohan masyarakat dengan menggunakan agama sebagai alat.

Kita sering menyatakan perang terhadap komunisme karena dianggap ingin mengeyahkan agama-agama di dunia. Tapi sadar nggak sih, dengan kelakuan yang seenaknya, tidak mengindahkan tepa selira den kadang-kadang beringas, justru kita memupuk paham anti-agama itu sendiri. Agama yang seharusnya membawa keselamatan bagi manusia, justru menjadi petaka karena cara sebagian orang mengintrepretasi agama dan kitab suci. Jika hal seperti egoisme beragama ini adalah yang sekarang dianggap menjadi esensi dan kebenaran dari agama, maka dengan senang hati saya akan memilih untuk tidak beragama.

Karena saya hanya menyembah Tuhan, bukan menyembah agama dan saya yakin Tuhan ingin agar setiap manusia saling mengasihi dan menyayangi.

Bismillahirrahmannirrahim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika Allah mengasihi dan menyayangi ciptaannya, apakah manusia lebih hebat dari Tuhan sehingga “tebang pilih” dalam menyayangi dan mengasihi? Buat apa basmalah kita ucapkan berkali-kali setiap kalinya, tapi tidak pernah kita ambil maknanya.