Sunday, May 7, 2017

Pada awalnya, saya termasuk golongan manusia yang sering memandang sebelah mata kepada orang-orang yang memakai celana sematakaki dan memanjangkan janggut. Rasanya kok nggak kelihatan keren dan seperti ingin mendapatkan pengakuan “Lihat dong, ini lho gue, orang saleh.” Juga melihat perempuan-perampuan yang berjilbab panjang a la Arab dengan bahan yang bermutu rendah, sehingga kalau siang hari terik menebarkan semerbak yang “aduhai.” Saya sering berpikir, ini kenapa ya, orang-orang malah cintanya sama budaya Arab, nggak mikir apa untuk melestarikan budaya sendiri?

Tapi kemudian saya berpikir. Perubahan adalah hal yang pasti. Gaya berbusana juga berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan jaman dan arus informasi yang masuk. Kalau kita mau kaji lagi (dan mau jujur), busana tradisional Indonesia juga adalah adaptasi dari berbagai budaya di dunia, yang masuk ke Indonesia lewat perdagangan.

Budaya Cina telah mempengaruhi cara perempuan Jawa berbusana. Dalam foto, terlihat jelas bagaimana budaya Cina mempengaruhi kebaya Jawa. Begitu juga dengan pengarug Cina dalam busana pengantin perempuan Betawi. 
Perempuan Tiongkok
Perempuan Priyayi Jawa
Pengantin Tiongkok
Pengantin Betawi




Contoh budaya lain adalah pengaruh budaya Gujarat. Terlihat foto Raja Jawa yang memakai busana mirip dengan busana Raja Gujarat. Begitu pula dengan pengaruh barat yang menjadikan jas pendek dan dasi kupu-kupu a al tuxedo dipadkan dengan kain jarik batik.

Raja Gujarat

Raja Jawa


Jadi, sebetulnya kalau kita berteriak-teriak tentang Arabisasi, ya sebetulnya kurang pas, karena toh sebelumnya kita sudah pernah menerima dengan tangan terbuka “Cinanisasi” dan “Westernisasi.”

Menurut saya, yang penting adalah menahan diri untuk tidak saling meghujat. Ibu-ibu, mbak-mbak, ceuceu-ceuceu yang menggunakan hijab panjang nggak usah berkoar-koar bahwa yang pakaian yang digunakan adalah yang paling benar dan perempuan muslim yang tidak menggunakannya adalah laknat. Begitu pula dengan yang lain, janganlah serta merta lihat perempuan berjilbab panjang atau laki-laki dengan celana baggy dipotong sebatas mata kaki lalu dicap sebagai fundamentalis yang harus dijauhi. Lalu soal mempertahankan tradisi. Well, tradisi dan budaya Indonesia pun berkembang dan senantiasa berubah. Adalah mustahil untuk mempertahankan busana-busana tradisional persis sama seperti dulu. Kita sering lupa bahwa busana yang kita sebut busana tradisional juga adalah merupakan hasil dari evolusi budaya (dan busana) yang dari awalnya (mungkin) hanya selembar kain penutup badan lalu berkembang menjadi seperti sekarang.

Nggak usahlah kita alergi dengan busana-busana a la Arab, a la Tiongkok, a la barat atau a la apapun. Yang penting adalah memakai busana yang nyaman dan bermartabat serta sesuai dengan waktu dan tempat.

P.S.
Pakai juga bahan yang baik ya, jadi menyerap keringan di negara kita yang tropis ini...

Sunday, February 19, 2017

Rusaknya Rasa Kemanusiaan Dalam Keberagamaan

Sabtu malam, saya pulang ke rumah setelah jaga toko yang dilanjutkan dengan sebuah pertemuan hingga malam hari. Untung, saya pada hari itu bepergian dengan menggunakan ojek karena, sampai di jalan masuk dekat rumah, sudah penuh tertutup manusia. Ada pengajian. “Here we go again, “ saya membatin. Kalau saya pakai mobil malam itu, pasti akan harus berputar dan melewati jalan yang lebih sempit dan lebih susah dalam memanuver mobil masuk ke jalan kecil didepan rumah.

Malam makin larut. Menjelang jam 11 malam, saya masih dengar sang penceramah dengan menggunakan sistem tata suara yang distel maksimal, berteriak-teriak soal haram memilih pemimipin non-muslim. Ya Allah, Gusti nu agung… Harus banget nih, menjelang tengah malam jerit-jerit soal politik yang dibungkus agama? Nggak lama setelah itu, ceramah, yang entah berlangsung berapa jam itu, akhirnya selesai, namun disambung dengan bunyi-bunyi kembang api dan petasan yang luarbiasa kerasnya. Gini ya, ini pemukiman padat penduduk dengan gang-gang kecil yang membelah antara lajur-lajur rumah. Kebayang nggak, gimana sangat mengganggunya suara-suara itu? Anjing-anjing yang saya pelihara, panik ketakutan. Ada yang sampai buang kotoran dimana-mana saking stress-nya.

Lalu saya ingat, tadi pagi, ketika saya berangkat, hanya beda dua gang dari rumah saya, ada yang sedang berduka cita. Sungguh nggak bisa saya bayangkan, bagaimana perasaan keluarga yang sedang berdukacita tersebut dengan ulah sang tetangga yang sepertinya tidak peduli dengan musibah yang sedang dialami mereka. Kalau argumennya mereka nggak tahu, come on, lha wong di setiap ujung jalan ada bendera kuningnya kok. Saya juga nggak mengerti dengan Ketua RT atau Ketua RW yang sepertinya membiarkan ini terjadi. Mungkin, mereka takut juga untuk mengingatkan, karena takut dicap menghalang-halangi kegiatan keagamaan.

Agama diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia. Tapi jika kegiatan keagamaan itu mengganggu kenyamanan kehidupan masyarakat, apalagi sampai tidak mengindahkan perasaan orang lain, menurut saya sudah tidak lagi untuk kemaslahatan umat manusia. Agama hanya dipakai sebagai alat pemuas ego untuk berbuat seenaknya dan berteriak semaunya tanpa takut dipersalahkan. Orang-orang dibuat takut dengan membawa nama agama, sehingga sekalipun merasa terganggu dan tersakiti hatinya, harus ditelan begitu saja seperti pil pahit karena takut diamuk massa yang “katanya” beragama ini. Terus terang, saya juga takut kalau pada malam itu saya datang dan protes karena merasa terganggu. Tapi, membiarkan hal ini juga sama saja dengan membiarkan pembodohan masyarakat dengan menggunakan agama sebagai alat.

Kita sering menyatakan perang terhadap komunisme karena dianggap ingin mengeyahkan agama-agama di dunia. Tapi sadar nggak sih, dengan kelakuan yang seenaknya, tidak mengindahkan tepa selira den kadang-kadang beringas, justru kita memupuk paham anti-agama itu sendiri. Agama yang seharusnya membawa keselamatan bagi manusia, justru menjadi petaka karena cara sebagian orang mengintrepretasi agama dan kitab suci. Jika hal seperti egoisme beragama ini adalah yang sekarang dianggap menjadi esensi dan kebenaran dari agama, maka dengan senang hati saya akan memilih untuk tidak beragama.

Karena saya hanya menyembah Tuhan, bukan menyembah agama dan saya yakin Tuhan ingin agar setiap manusia saling mengasihi dan menyayangi.

Bismillahirrahmannirrahim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika Allah mengasihi dan menyayangi ciptaannya, apakah manusia lebih hebat dari Tuhan sehingga “tebang pilih” dalam menyayangi dan mengasihi? Buat apa basmalah kita ucapkan berkali-kali setiap kalinya, tapi tidak pernah kita ambil maknanya.

Monday, November 14, 2016

Beragama Dalam Damai

Mom dan saya, 22 tahun kemudian di Flagstaff, Arizona

Tahun 1993 sampai 1994 saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi siswa pertukaran pelajar di Berwyn, Il, USA. Sebuah pengalaman yang selanjutnya mengubah hidup dan cara saya memandang dunia.

Sebuah rasa yang luarbiasa ketika pada waktu itu saya menerima berkas yang berisikan informasi tentang keluarga angkat saya. Ternyata, saya akan ditempatkan di keluarga dengan orangtua tunggal, seorang ibu. Lalu saya lihat pekerjaan ibu angkat saya.

Minister.

Saya mulai mengernyitkan muka. Masa sih saya bakal jadi anak menteri? Maklumlah, Bahasa Inggris masih cetek, jadi tahunya minister itu menteri. Lalu saya cari tahu lagi, ternyata, ibu angkat saya adalah pendeta Kristen Protestan Lutheran (minister = pendeta). Saya lanjutkan baca informasi keluarga angkat saya. Ternyata, rumah yang akan saya tinggali nantinya berada tepat disamping gereja, karena rumah ini adalah “rumah dinas” pendeta.

Waduh, sebagai “anak Rohis” yang selalu mendengarkan doktrin tentang surga dan neraka serta kaum kafir, rasanya agak gentar juga. Nggak cuma saya akan pergi ke negara dimana saya akan menjadi minoritas, saya akan tinggal bersama pendeta, pemuka agama lain. “Bismillah aja lah,” saya pikir.
Singkat kata, sampailah saya di “the land of the free and the home of the brave.” Disini saya bergelut dengan segala doktrin yang sebelumnya telah dijejalkan di dalam kepala saya. Ternyata konsep salah-benar yang selama ini saya jalankan secara buta, tidaklah sesederhana warna hitam dan putih.

Mempunyai seorang ibu angkat yang juga adalah seorang Pendeta Lutheran justru membuat saya ingin lebih memahami agama. Pada saat beliau belajar menjadi pendeta, ibu angkat saya ini diharuskan belajar mengenai berbagai agama dan kitab sucinya. Lalu mengalirlah diskusi-diskusi ringan mengenai agama dan konsep Ketuhanan. Sungguh menyenangkan untk mendapatkan pandangan dari “lingkaran luar.” Disini saya belajar ke-bhinneka tunggal ika-an yang sesungguhnya. Bahwa diantara berjuta perbedaan, terdapat pula milyaran kesamaan dalam kebaikan dan kearifan. Bahwa Tuhan memang dengan sengaja menciptakan keberagaman di dunia, sehingga kita bisa saling belajar, saling menghormati serta saling mengasihi.

Ibu angkat saya adalah orang yang paling repot ketika saya sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Setiap hari dia cek, apakah saya akan punya cukup makanan untuk sahur. Kalau saya tidak terbangun buat sahur (maklum, saat itu sedang musim dingin, jadi tentunya sungguh jauh lebih nyaman untuk terus kemulan selimut di tempat tidur), dia ketuk kamar saya sampai saya bangun dan turun ke dapur untuk sahur. Dipasangnya juga jadwal imsakiyyah dari Islamic Center setempat di dapur agar semua orang tahu kapan saya bisa dan tidak bisa makan.

Setelah beberapa bulan tinggal disana, saya mulai rajin datang ke gereja setiap hari Minggu. Saya penasaran, seperti apa sih, ibadah mereka di gereja? Sepanjang ingatan saya, tidak pernah sekalipun ibu angkat saya berkhotbah yang isinya menjelekkan agama lain. Apakah karena beliau tahu ada saya disana? Mungkin saja. Tapi sepanjang pengetahuan saya, menjelekkan orang lain bukanlah karakter beliau. Tapi, kalaupun itu tidak beliau lakukan karena khawatir akan menyakiti perasaan saya, bukankah itu hal yang manis? Beliau memikirkan perasaan saya, padahal hanya saya sorang diri yang berbeda disana.

Berbeda dengan di kampung sendiri. Kebetulan di Jakarta, keluarga saya tinggal di lingkungan dimana banyak tetangga kami yang tidak seagama dengan kami. Hampir setiap shalat Jumat di masjid lingkungan kami, khutbahnya selalu ada sebutan kafir bagaimana kita harus memusuhi kaum kafir atau apapun yang tidak Islam (versi sang penceramah) pasti salah dan harus dihapuskan. Semua dilakukan dengan menggunakan pengeras suara yang distel maksimum. Sungguh, sering saya ingin lari keluar dan meminta maaf kepada para tetangga saya atas khutbah-khutbah “militan” yang pastinya menyakitkan hati mereka.

Ternyata, tinggal dengan pendeta di rumah yang bersebelahan dengan gereja justru membuat saya lebih nyaman dalam beragama. The feeling of being welcomed and embraced despite of my differences, gave me the sense of peace. Sungguh nikmat menjadi berbeda. Patut disayangkan, hanya karena kita di Indonesia adalah mayoritas, maka kita menjadi jumawa dan mengesampingkan perasaan orang lain dan hak-hak mereka untuk merasa damai.

Tidak semua orang bisa berkesempatan seperti saya untuk merasakan nikmatnya berdamai dengan perbedaan. Tapi saya yakin kalau saya nggak sendirian dalam hal ini. Rasanya, kalau kita bisa bergerak bersama dalam mempromosikan nikmatnya perbedaan dan indahnya perdamaian, sedikit demi sedikit kita dapat menggerakkan hati lebih banyak orang.

Monday, September 19, 2016

Liberalisme dan Perkembangan Kekolotan Masyarakat Indonesia

Saya selalu menganggap bahwa saya adalah freethinker, seorang liberalis. Saya selalu berpikir bahwa setiap orang bebas berpendapat dan prinsip ini saya junjung tinggi walaupun tidaklah mudah dalam prakteknya. Seringkali saya gemas (gemeeeetz, kalau kalau menurut kamus Alay), kalau melihat orang-orang picik berpikiran sempit yang berkoar-koar demi apa yang mereka pikir adalah sebuah kebenaran. Namun, karena semua orang bebas berpendapat, saya (dengan terpaksa) harus menghormati mereka-mereka ini dan menyadari bahwa dunia memiliki orang-orang seperti ini. Lagipula, jika dunia ini adalah pertunjukan sandiwara, tidaklah “gurih” tanpa peran antagonis.

Sebagai hasil dari “perjuangan” tahun 1998, negara kita pelan-pelan bergeser menjadi negara yang begitu demokratis dan liberal. Tidak ada lagi bendungan dalam berpendapat. Yang kemudian menjadi penting adalah keberpihakan masyarakat umum tentang pendapat apa yang dianggap baik, dan kemudian diadopsi menjadi sebuah norma. Saya pribadi melihat bahwa 18 tahun terkahir justru adalah periode kelam bagi kehidupan berbudaya bangsa Indonesia. Budaya bangsa ini seolah-olah tenggelam dengan munculnya gerakan-gerakan keagamaan, yang menggunakan kebebasan berpendapat sebagai “kendaraan perang” mereka. Pakaian nasional berubah menjadi busana padang pasir. Fatwa-fatwa mencengangkan diumbar dan dipaksakan sebagai suatu kebenaran. Ingat MUI Palu mengeluarkan fatwa haram tentang perempuan bersuami untuk mengunduh selfie mereka di media sosial? Sungguh absurd.

Menurut data dari World's Most Literate Nations yang diluncurkan oleh Central Connecticut State University tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang termasuk dalam survey tersebut (silakan baca http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html). Survey yang lebih lawas dilakukan oleh Unesco di tahun 2012, dimana indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu orang yang tertarik untuk membaca Jadi, saya menganggap bahwa bangsa kita adalah bangsa yang pandir, karena menurut saya, jika kita haus akan pengetahuan, tentu kita juga akan haus membaca. Kita adalah bangsa pemalas yang inginnya “disuapi” dan serta-merta menganggap itu sebagai suatu kebenaran.

Don’t get me wrong, saya bukannya alergi dengan gerakan-gerakan keagamaan. Gerakan-gerakan ini, jika memang murni keagamaan, tentunya bisa menciptakan kedamaian hati dan ketenangan batin bagi para pengikutnya. Namun jika gerakan-gerakan ini melakukan upaya-upaya pembodohan masyarakat dengan meniupkan isu SARA dalam politik, memaksakan pendapat dengan ancaman masuk neraka, serta mendukung terjadinya kemunduran budaya, tentunya hal ini tidak bisa dibenarkan. Kembali kepada bangsa kita yang pandir, corong-corong keagamaan adalah alat yang paling tepat untuk membentuk opini masyarakat yang hampir tidak akan pernah melakukan cek dan ricek, karena keengganan kita untuk membaca. Lucunya, mereka-mereka, para mulut-mulut didepan corong ini berteriak-teriak untuk membasmi liberalisme, sekularisme, padahal alasan mengapa mereka bisa bebas mengeluarkan pendapat adalah karena ini adalah negara bebas yang menjunjung kebebasan dalam berpendapat.

Kebebasan mengeluarkan pendapat ini justru telah membawa kita kepada kemunduran berbudaya. Semua yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran agama (menurut mereka), dicecar habis, seakan-akan mereka sedang berada dalam sebuah perang suci. Ketika dulu para Wali Songo dengan lihai menggunakan budaya dan kearifan lokal dalam menyebarkan agama, sekarang justru kesenian dan budaya tersebut diminta untuk ditinggalkan karena (menurut mereka) tidak sesuai dengan agama. Kebaya dan baju kurung diganti dengan gamis panjang a la Arab karena mereka percaya, itulah salah satu jalan menuju surga. Pergaulan dan pesta-pesta anak muda dicap begitu negatif padahal bagi anak muda penting untuk mengekspresikan diri dan berkenalan dengan banyak orang agar luas wawasannya. Saya baru-baru ini menonton film Tiga Dara yang dibuat tahun 1957. Film ini begitu modern dimana para perempuan diperlihatkan mempunyai hak atas hidupnya sendiri. Adegan dengan menggunakan baju renang wajar saja karena dilakukan di pinggir kolam renang. Pesta dansa dirumah juga dilihat sebagai sesuatu yang wajar (sesuai dengan tren saat itu, kalau sekarang mungkin sama dengan clubbing). Apakah namanya bukan kemunduran jika sekarang dilakukan sensor-sensor norak yang dilakukan oleh media. Dari arca purbakala sampai perenang dalam PON 2016 di-blur karena takut digeruduk ormas karena dianggap tidak sesuai dengan syariah. Apakah bukan kemunduran namanya disaat bangsa lain berjuang tentang hak-hak perempuan, bangsa kita mencibir perempuan yang menurut mereka mempertontonkan aurat dan menganggapnya sebagai “undangan” bagi laki-laki untuk memuaskan birahinya.

Kebebasan berpendapat telah membawa kita kepada menuhankan agama dan membuat masyarakat mengkultuskan para pemimpin spiritual. Sungguh lucu melihat foto-foto para habib pemimpin pengajian terpampang begitu besar, melebihi kaligrafi Allah SWT dan Muhammad SAW di masjid-masjid. Ketika Rasullullah mengharamkan pengkultusan atas dirinya sehingga tidak satupun ada lukisan wajah beliau, wajah-wajah habib ini terpampang megah di baliho-baliho yang mungkin juga tidak bayar pajak.

Saya ingat beberapa waktu lalu ada tulisan dari pihak yang pro mereka tentang toleransi yang kebablasan. Bagaimana katanya banyak orang yang “mengorbankan” akidah atas nama toleransi. Nah, sebaliknya, saya juga menganggap mereka adalah kaum agamis yang kebablasan. Mengumbar fatwa, mengumbar janji surga, mengumbar rasa takut masuk neraka, semua atas nama agama. Saya pernah bilang hal ini kepada seorang yang saya kenal, lalu saya dibilang Islamophobia.

Liberalisme telah membawa kita kepada kemunduran budaya. Lalu apakah kebebasan harus dikekang? TENTU TIDAK! Yang harus dilakukan adalah membuat masyarakat kita lebih cerdas (walaupun tentunya bukan hanya dengan menyuruh anak bersekolah seharian penuh). Masyarakat yang cerdas akan dapat memilih mana yang terbaik buat dirinya, bukan bagai kerbau dicucuk hidungnya dan tanpa berpikir asal mengikuti apa kata pemuka agamanya. Para penceramah agama, pemimpin spiritual, ulama, pendeta juga harus cerdas, sehingga dapat membantu mencerdaskan bangsa. Masyarakat harus cerdas, sehingga kita bisa berdiskusi secara intelektual, tanpa adanya pemaksaan kehendak. Liberalisme harus dapat dirasakan manfaatnya oleh berbagai kalangan, termasuk kalangan agamis.

Friday, July 22, 2016

Westerninsasi, Arabisasi, Globalisasi

Akhir-akhir ini sedang marak pembicaraan tentang orang-orang Indonesia yang ke-Arab-araban, yang pemicunya adalah biasanya dengan apa yang dikenakan para perempuan. Satu pihak nyinyir kenapa perempuan Islam Indonnesia harus pake jilbab panjang longgar seperti orang Arab, sementara pihak yang lain sama nyinyir dan ngototnya bahawa yang mereka lakukan adalah semata-mata karena Sunnah Rasul dengan kata lain, berlindung di balik agama (as if, kalau bawa nama agama, mereka pasti tak terbantahkan).

Saya jadi teringat dulu, waktu saya mau berangkat program pertukaran pelajar. Terdapat beberapa concern kalau program pertukaran pelajar adalah suatu upaya westernisasi yang sistematis, dimana kita terpapar langsung pada kehidupan “dunia barat.” Hal ini digaungkan dengan sedemikian rupa, seolah-olah, westernisasi adalah sesuatu yang sangat salah. Kadang-kadang kita lupa kalau sebagian besar yang kita gunakan adalah produk budaya barat; mulai dari alphabet yang kita gunakan sampai model baju yang kita pakai. Dunia barat membuka mata kita terhadap sains dan teknologi sebagaimana memaparkan kita juga pada budaya mereka. Tapi nyatanya, westernisasi sering dihujat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma kita sebagai bangsa Indonesia atau bangsa Timur.

Perkembangan teknologi memungkinkan kita untuk melihat banyak hal lain di dunia. Termasuk dunia Arab. Berbondong-bondonglah para manusia Indonesia ini untuk mengikuti apa yang digunakan oleh mereka di Arab, dengan mempercayainya sebagai hal yang relijius. Karena ini datangnya dari Arab, maka siapapun yang menentangnya dianggap menentang agama.

Lha, ini logikanya di mana ya? Budaya Arab adalah  budaya yang sama asingnya dengan budaya Amerika atau Eropa. Tapi kalau baju gamis dianggap suci, gaun malam dianggap merusak moral, padahal sama-sama produk luar negeri. Hasilnya? Para perancang busana Indonesia ngos-ngosan mempertahankan ciri khas Indonesia dengan mengaplikasikannya ke unsur barat, maupun ke unsur Arab. Keaslian tradisi daerah pada akhirnya harus mengalah untuk menjadi modern.

Salah? Tidak juga. Segala sesuatu di dunia itu berevolusi. Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, perubahan adalah sebuah sunatullah. Lalu kenapa kita harus ribut-ribut? Saya pikir ada dua masalah utamanya:

1.  Kita hanya melihat sesuatu dari luarnya saja. Seperti fenomena puncak gunung es, kita senangnya hanya bereaksi atas apa yang kita lihat di permukaan. Senang sekali meniru gaya berpakaian, tapi bukan pemikiran. Pakai gamis yang budaya Arab dianggap lebih suci dibandingkan dengan memakai jas yang budaya barat, karena dianggap itulah pakaian yang dikenakan oleh Rasulullah. Tapi coba, lebih penting mana: meniru keteladanan dan akhlak Rasulullah atau cara berpakaiannya? Pakai baju seksi seperti Lady Gaga dianggap lebih cool dibandingkan pakai kebaya. Padahal, bukankah lebih baik meniru kerja kerasnya daripada pakaiannya? Hari Kartini dirayakan dengan karnaval menggunakan baju daerah, bukan dengan mengupas pemikiran beliau.

2. Kita tidak pandai memilah antara “konsep salah/benar” dengan “beda.” Jika kita merangkul perbedaan sebagai suatu sunatullah, tentunya kita tidak harus bersitegang untuk masing-masing berpegang teguh bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Allah sendiri pada QS AR RUM:22 dan QS AL HUJURAT:13 telah menegaskan perbedaan tersebut. Orang-orang dengan budaya yang berbeda bukan berarti amoral. Perempuan dengan jilbab panjang bukan berarti fundamentalis, sebaliknya, perempuan yang memakai bikini di pantai bukan berarti murahan. Perbedaan pendapat adalah wajar, asalkan kita tidak mengkalim bahwa pendapat kitalah yang paling benar. Culture is something that is logically inherited. Artinya, budaya adalah sesuatu yang dipelajari, bukan sesuatu yang alami. Oleh karenanya, konsep baik-buruk, sopan-tidak sopan, pasti berbeda antara budaya satu dengan lainnya. Apakah budaya Arab lebih baik daripada budaya Barat? Yang pasti keduanya berbeda, seperti budaya Indonesia pun berbeda dari budaya Amerika, Eropa, Arab dan wilayah-wilayah lainnya.

Globalisasi membuat kita harus lebih cerdas. Disaat kita saling mencibir cara berpakaian, orang lain sudah berpikir untuk menciptakan pakaian dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Globalisasi akan membawa kita terpapar pada berbagai hal yang berbeda. Budaya dan nilai-nilai pasti akan bergeser. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini, tanpa harus kehilangan identitas diri. Mari kita bertahan pada "isi" bukan "bungkus."

Monday, July 18, 2016

Perempuan dan Islam

Beruntunglah kita yang hidup di Indonesia karena sesungguhnya kita menikmati kebebasan yang seluas-luasnya. Oleh karenanya, saya sering bingung kalau masih saja ada orang-orang warga negara kita yang menjelek-jelekkan negara ini atau pemimpinnya. Mereka dengan bangga membanding-bandingkannya dengan negara-negara Islam dan yakin bahwa itulah yang sebaik-baiknya negara di dunia. Negara-negara dimana perempuan tidak bisa sekolah, negara dimana perempuan tidak bisa menyetir mobil sendiri, negara dimana perempuan tidak diperkenankan bepergian sendiri.

Sungguh lucu kalau melihat kefanatikan manusia-manusia seperti ini sehingga menjadikan mereka bodoh. Bodoh, karena mereka seolah-olah tidak pernah membaca sejarah Islam atau dengan sengaja mengabaikannya.

Perempuan adalah bagian penting dalam sejarah Islam. Istri Rasulullah SAW yang paling sering disebut namanya adalah Khadijah R.A. Kita semua tahu kalau saat beliau hidup, perempuan mulia ini menguasai perniagaan yang besar di Mekkah. Khadijah adalah seorang entrepreneur yang membawahi banyak karyawan laki-laki, termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad SAW sebelum mereka menikah. Sungguh menggelikan jika ada orang-orang yang menganggap perempuan tidak pantas dijadikan pemimpin, sementara Rasulullah tidak pernah mempermasalahkannya, malah menikah dengan “boss” nya. Siapa bilang juga kalau kita tidak bisa mendobrak adat?

“…Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Dia, yang pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah, 'Atiqah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad (SAW) yaitu Abu Thalib…” (https://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid)

Pada saat itu Khadijah sudah memulai usaha agar perempuan bisa mempunyai pendapat sendiri dan bisa memutuskan yang terbaik buat dirinya sendiri. Ketika sekarang perempuan harus tunduk kepada kemauan suaminya, ayahnya atau saudara-saudara laki-lakinya, hal ini merupakan kemunduran lebih dari seribu tahun.

Kita sering mendengar cerita-cerita tentang tokoh-tokoh perempuan Islam di jaman Rasulullah dan dengan bangga menceritakannya kembali, tapi sedikit yang mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut. Ingatkah kita akan cerita dari Khawlah binti Azwar, pejuang perempuan di jaman perang merebut Damaskus? Terus terang, saya anti peperangan dan anti kekerasan, tapi Khawlah adalah perempuan luarbiasa yang mengambil begitu banyak “peran laki-laki.” Jago pedang dan jago berkuda. Namanya tercatat dalam tinta emas sejarah Islam. Sungguh sayang jika kita memuji kepahlawanan perempuan yang jago berkuda ini, tapi kita tidak membolehkan perempuan untuk menyetir dan bepergian sendirian kemana-mana.

Kesetaraan perempuan dan laki-laki jelas tercatat dalam sejarah Islam, namun adat kita yang sangat patriarki seolah-olah membuat kita menyingkirkan pengakuan terhadap kesetaraan ini. Kisah tentang Nailah binti al-Farafishah, istri Utsman bin Affan, misalnya. Alih-alih membesarkan cerita tentang intelektualitas perempuan ini, yang dibesarkan justru adalah tentang pengabdiannya kepada suami. Seolah-olah perempuan kerjaannya hanyalah untuk mengabdi pada suami. Nailah binti al-Farafishah adalah seorang perempuan dengan daya intelektual tinggi, sehingga menjadi teman Ustman bin Affan untuk bertukar pikiran dalam berbagai hal. Dari berbagai literatur saya mendapatkan kutipan dari sang suami “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” ujar Utsman bin Affan. Jika khalifah sahabat Rasulullah saja mendukung dan memuji kepandaian istrinya, siapakah kita yang berani bilang kalau perempuan itu tidak harus pintar? Kenapa kita harus mendukung pendapat yang menyatakan bahwa perempuan itu first and foremost adalah harus taat kepada suami dengan menyampingkan hal-hal lain? Seolah-olah perempuan hanya objek tanpa pernah menjadi subjek.


Buat kalian-kalian yang menganggap hukum di Saudi Arabia atau di Afghanistan adalah yang terbaik, silakan berpikir lagi. Apakah mereka benar-benar telah mengamalkan apa yang telah dicontohkan di jaman Rasulullah SAW atau sekedar mengklaim bahwa yang mereka lakukan adalah Islami.

Sunday, March 6, 2016

Pandainya Kita Mengalihkan Isu

Saya akan memulai tulisan saya dengan menyalin ulang apa yang saya dapatkan di ponsel saya pagi ini:


Assalamu'alaikum...

Info dari sebelah.

Ikhwani fillah rahimakumullah, ini ada titipan forward sahabat anggota DDI (Dewan Dakwah Islam) 
Ustdz Fadlan Gharamatan soal IMB MASJID.

Insya Allah, kami, kel besar Mabrur Salman ITB77, bersedia siapkan Drafter, dan Biayai Gambar2 yang jadi Syarat IMB (biasanya Denah, Pot Memanjang dan Melintang) untuk pembangunan musholla dan masjid dimana pun. Bahkan kami bersedia siapkan Structural Design Calculations, kalau perlu. Mohon hal ini ditawarkan ke Pengurus2 Masjid.

Berikut Fwd nya:

GEREJA DI JAKARTA DIHANCURKAN OLEH AHOK KARENA TIDAK MEMILIKI IMB.

Apakah akan dilanjutkan ke masjid2 kita yang tidak memiliki IMB ? 

#SaveOurMasjid
#IMBdiatasTanahWakaf

Masjid diseluruh negeri ini umumnya didirikan di atas tanah Wakaf dan dibangun dengan swadaya masyarakat setempat dan donatur dermawan yg berinfak.

Bagaimana kemudian ada pihak yang berkepentingan mempertanyakan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atas Masjid dan Musholla ? Bisakah pengurus Masjid memperlihatkan buktinya?

Mungkin ini akan menjadi PR Besar pengurus Masjid-Musholla untuk segera melengkapinya, sebelum "Pemerintahan Kafir" memanfaatkan kondisi ini. Karena "tumbal" utk rencana besar mereka telah dimulai, kita belajar dari kasus di DKI, Penghancuran sebuah Gereja di Jati Negara dengan alasan tidak memiliki izin, dan ummat Islam di Jakarta pun "terpesona" dari pemandangan kasat mata ini, namun sesungguhnya "rencana tidak kasat mata" bisa jadi telah mereka susun secara masif terstruktur, yang target akhirnya adalah puluhan bahkan ribuan Masjid-Musholla di Jakarta dan seluruh tanah air Indonesia, karena mayoritas dibangun di atas tanah Wakaf dengan swadaya masyarakat.

"Gereja kami, kami relakan untuk dihancurkan karena tidak memiliki izin, maka ummat Islam pun harus rela masjid-masjid, mushollanya yg tidak berizin untuk dihancurkan sebagaimana bangunan liar lainnya...!!"

Sebuah strategi tumbal yang sangat terskenario, sementara kita masih tidak mau belajar dari strategi yang mereka lakukan... Kalau kita tidak bisa belajar dari kondisi hari ini, yakinlah Masjid-Musholla2 megah di tanah air ini hanya akan menjadi kenangan semata bagi anak cucu kita.

Tolong sosialisasikan...!
SUDAHKAH MASJID KITA MEMILIKI IMB...??

Ayo para ta'mir dan pengurus Masjid-Musholla2, kita urus IMB masjid/mushollah kita ke Dinas/Badan Perizinan Daerah Pemda setempat, dan ini persyaratannya : Surat prmohonan yg ditandangani pengurus Masjid, copy KTP yg masih berlaku, copy gambar rencana bangunan yang di ditanda tangani juru gambar, copy surat kepemilikan tanah, tanda lunas PBB, surat pernyataan persetujuan tetangga yg diketahui lurah & camat setempat, rekomendasi camat 

WAKTU PENYELESAIAN 10 HARI KERJA ..... LENGKAPI SYARATNYA AMBIL IMB-NYA

NB: sebarkan info untuk menyelamatkan mesjid dan musholla kita. (dikutip/disebarkan oleh fim)

pengurus mabrur itb77 : Andi Eka 0812943****, Rusdi 081686****, Saul 0815602****.

---------------------------------------------------------------------

Pertama, saya nggak terlalu yakin sih ini dilansir oleh mahasiswa/alumni ITB.

Kedua, sungguh penulisan yang amat, sangat tolol, sehingga saya kembali ke poin pertama, masa sih ditulis olah orang-orang ITB?

Begini, IMB dibutuhkan untuk membangun APAPUN, sampai billboard saja harus ada IMB-nya. Lalu nggak ada hubungannya sama tanah wakaf atau nggak. Apapun yang dibangun diatas tanah, harus ada IMB-nya.

Memang apa sih guna IMB? Biar bikin susah orang bangun masjid? Ya nggak lah!

Mari kita lihat, sebetulnya "binatang" seperti apakah IMB itu. 

Izin Mendirikan Bangunan atau biasa dikenal dengan IMB adalah perizinan yang diberikan oleh Kepala Daerah kepada pemilik bangunan untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku. IMB merupakan salah satu produk hukum untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban, keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian hukum. Kewajiban setiap orang atau badan yang akan mendirikan bangunan untuk memiliki Izin Mendirikan Bangunan diatur pada Pasal 5 ayat 1 Perda 7 Tahun 2009. (Wikipedia)

Tolong dibaca lagi bagian "...sehingga tercipta ketertiban, keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian hukum." Dengan mengurus IMB sebelum mendirikan bangunan apapun, termasuk rumah ibadah, pembangun gedung tersebut harus memperhatikan aspek-aspek tadi. Apakah nanti umat akan nyaman berada di dalam masjid tersebut? Apakah nanti akan aman dan tidak sekonyong-konyong roboh ketika umat sedang beribadah didalamnya? Apakah memiliki lahan yang cukup luas untuk parkir? Apakah cukup memadai untuk shalat Jumat sehingga umat Islam yang akan menunaikan shalat Jumat tidak harus luber ke jalanan, panas-panasan, kehujanan dan membuat macet? Jadi kenapa IMB itu penting, ya untuk kita juga. Siapapun yang membangun masjid, harus bertanggung jawab atas keselamatan, kenyamanan, ketertiban dan keamanan umat yang beribadah. Sungguh suatu hal yang sangat tolol, jika issue IMB ini dikaitkan dengan, saya kutip, "pemerintahan kafir."

Saya muslim, namun sungguh saya geram dengan umat Islam yang hanya berani menyalahkan orang lain, tanpa berkaca kepada diri sendiri. IMB adalah sesuatu yang WAJIB dimiliki ketika mendirikan bangunan apapun. Kalau ada masjid nggak punya IMB lalu salah siapa?

Kalau himbauan diatas tadi untuk mengingatkan bahwa masjid harus tertib administrasi, tentu akan sangat saya dukung. Bahkan kita bisa buat petisi ke pemerintah daerah misalnya untuk menghapuskan denda bagi masjid-masjid lama yang tidak memiliki IMB. Itu saya dukung. Tapi ketika issue agama lain sudah dihembuskan, sungguh sangat amat mencoreng citra Islam! 

Ini masalah administrasi, bukan masalah agama!

Marilah kita menjadi manusia-manusia yang pintar dan bisa menganalisa masalah, bukan hanya pandai mengalihkan isu.

Daripada kita menyalahkan orang lain, mengapa kita nggak menjadi contoh yang baik. Kita pastikan bahwa semua bangunan rumah ibadah kita memiliki ijin dan layak menjadi tempat beribadah yang aman dan nyaman bagi umat. Ayo dong kita buktikan bahwa umat Islam adalah umat yang taat dan disiplin pada peraturan. Mari kita urus IMB masjid, mushalla, langgar kita, karena memang itu WAJIB kita lakukan, bukan karena ada "pemerintahan kafir" yang akan menggusur.