Pada awalnya, saya termasuk golongan manusia yang sering
memandang sebelah mata kepada orang-orang yang memakai celana sematakaki dan
memanjangkan janggut. Rasanya kok nggak kelihatan keren dan seperti ingin
mendapatkan pengakuan “Lihat dong, ini lho gue, orang saleh.” Juga melihat
perempuan-perampuan yang berjilbab panjang a la Arab dengan bahan yang bermutu
rendah, sehingga kalau siang hari terik menebarkan semerbak yang “aduhai.” Saya
sering berpikir, ini kenapa ya, orang-orang malah cintanya sama budaya Arab,
nggak mikir apa untuk melestarikan budaya sendiri?
Tapi kemudian saya berpikir. Perubahan adalah hal yang
pasti. Gaya berbusana juga berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan
jaman dan arus informasi yang masuk. Kalau kita mau kaji lagi (dan mau jujur),
busana tradisional Indonesia juga adalah adaptasi dari berbagai budaya di
dunia, yang masuk ke Indonesia lewat perdagangan.
Budaya Cina telah mempengaruhi cara perempuan Jawa
berbusana. Dalam foto, terlihat jelas bagaimana budaya Cina mempengaruhi kebaya
Jawa. Begitu juga dengan pengarug Cina dalam busana pengantin perempuan Betawi.
![]() |
| Perempuan Tiongkok |
![]() |
| Perempuan Priyayi Jawa |
![]() |
| Pengantin Tiongkok |
![]() |
| Pengantin Betawi |
Contoh budaya lain adalah pengaruh budaya Gujarat. Terlihat foto Raja Jawa yang memakai busana mirip dengan busana Raja Gujarat. Begitu pula dengan pengaruh barat yang menjadikan jas pendek dan dasi kupu-kupu a al tuxedo dipadkan dengan kain jarik batik.
![]() |
| Raja Gujarat |
![]() |
| Raja Jawa |
Jadi, sebetulnya kalau kita berteriak-teriak tentang
Arabisasi, ya sebetulnya kurang pas, karena toh sebelumnya kita sudah pernah
menerima dengan tangan terbuka “Cinanisasi” dan “Westernisasi.”
Menurut saya, yang penting adalah menahan diri untuk tidak
saling meghujat. Ibu-ibu, mbak-mbak, ceuceu-ceuceu yang menggunakan hijab
panjang nggak usah berkoar-koar bahwa yang pakaian yang digunakan adalah yang
paling benar dan perempuan muslim yang tidak menggunakannya adalah laknat.
Begitu pula dengan yang lain, janganlah serta merta lihat perempuan berjilbab
panjang atau laki-laki dengan celana baggy dipotong sebatas mata kaki lalu dicap
sebagai fundamentalis yang harus dijauhi. Lalu soal mempertahankan tradisi.
Well, tradisi dan budaya Indonesia pun berkembang dan senantiasa berubah.
Adalah mustahil untuk mempertahankan busana-busana tradisional persis sama
seperti dulu. Kita sering lupa bahwa busana yang kita sebut busana tradisional
juga adalah merupakan hasil dari evolusi budaya (dan busana) yang dari awalnya
(mungkin) hanya selembar kain penutup badan lalu berkembang menjadi seperti
sekarang.
P.S.
Pakai juga bahan yang baik ya, jadi menyerap keringan di negara kita yang tropis ini...






No comments:
Post a Comment