Monday, November 14, 2016

Beragama Dalam Damai

Mom dan saya, 22 tahun kemudian di Flagstaff, Arizona

Tahun 1993 sampai 1994 saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi siswa pertukaran pelajar di Berwyn, Il, USA. Sebuah pengalaman yang selanjutnya mengubah hidup dan cara saya memandang dunia.

Sebuah rasa yang luarbiasa ketika pada waktu itu saya menerima berkas yang berisikan informasi tentang keluarga angkat saya. Ternyata, saya akan ditempatkan di keluarga dengan orangtua tunggal, seorang ibu. Lalu saya lihat pekerjaan ibu angkat saya.

Minister.

Saya mulai mengernyitkan muka. Masa sih saya bakal jadi anak menteri? Maklumlah, Bahasa Inggris masih cetek, jadi tahunya minister itu menteri. Lalu saya cari tahu lagi, ternyata, ibu angkat saya adalah pendeta Kristen Protestan Lutheran (minister = pendeta). Saya lanjutkan baca informasi keluarga angkat saya. Ternyata, rumah yang akan saya tinggali nantinya berada tepat disamping gereja, karena rumah ini adalah “rumah dinas” pendeta.

Waduh, sebagai “anak Rohis” yang selalu mendengarkan doktrin tentang surga dan neraka serta kaum kafir, rasanya agak gentar juga. Nggak cuma saya akan pergi ke negara dimana saya akan menjadi minoritas, saya akan tinggal bersama pendeta, pemuka agama lain. “Bismillah aja lah,” saya pikir.
Singkat kata, sampailah saya di “the land of the free and the home of the brave.” Disini saya bergelut dengan segala doktrin yang sebelumnya telah dijejalkan di dalam kepala saya. Ternyata konsep salah-benar yang selama ini saya jalankan secara buta, tidaklah sesederhana warna hitam dan putih.

Mempunyai seorang ibu angkat yang juga adalah seorang Pendeta Lutheran justru membuat saya ingin lebih memahami agama. Pada saat beliau belajar menjadi pendeta, ibu angkat saya ini diharuskan belajar mengenai berbagai agama dan kitab sucinya. Lalu mengalirlah diskusi-diskusi ringan mengenai agama dan konsep Ketuhanan. Sungguh menyenangkan untk mendapatkan pandangan dari “lingkaran luar.” Disini saya belajar ke-bhinneka tunggal ika-an yang sesungguhnya. Bahwa diantara berjuta perbedaan, terdapat pula milyaran kesamaan dalam kebaikan dan kearifan. Bahwa Tuhan memang dengan sengaja menciptakan keberagaman di dunia, sehingga kita bisa saling belajar, saling menghormati serta saling mengasihi.

Ibu angkat saya adalah orang yang paling repot ketika saya sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Setiap hari dia cek, apakah saya akan punya cukup makanan untuk sahur. Kalau saya tidak terbangun buat sahur (maklum, saat itu sedang musim dingin, jadi tentunya sungguh jauh lebih nyaman untuk terus kemulan selimut di tempat tidur), dia ketuk kamar saya sampai saya bangun dan turun ke dapur untuk sahur. Dipasangnya juga jadwal imsakiyyah dari Islamic Center setempat di dapur agar semua orang tahu kapan saya bisa dan tidak bisa makan.

Setelah beberapa bulan tinggal disana, saya mulai rajin datang ke gereja setiap hari Minggu. Saya penasaran, seperti apa sih, ibadah mereka di gereja? Sepanjang ingatan saya, tidak pernah sekalipun ibu angkat saya berkhotbah yang isinya menjelekkan agama lain. Apakah karena beliau tahu ada saya disana? Mungkin saja. Tapi sepanjang pengetahuan saya, menjelekkan orang lain bukanlah karakter beliau. Tapi, kalaupun itu tidak beliau lakukan karena khawatir akan menyakiti perasaan saya, bukankah itu hal yang manis? Beliau memikirkan perasaan saya, padahal hanya saya sorang diri yang berbeda disana.

Berbeda dengan di kampung sendiri. Kebetulan di Jakarta, keluarga saya tinggal di lingkungan dimana banyak tetangga kami yang tidak seagama dengan kami. Hampir setiap shalat Jumat di masjid lingkungan kami, khutbahnya selalu ada sebutan kafir bagaimana kita harus memusuhi kaum kafir atau apapun yang tidak Islam (versi sang penceramah) pasti salah dan harus dihapuskan. Semua dilakukan dengan menggunakan pengeras suara yang distel maksimum. Sungguh, sering saya ingin lari keluar dan meminta maaf kepada para tetangga saya atas khutbah-khutbah “militan” yang pastinya menyakitkan hati mereka.

Ternyata, tinggal dengan pendeta di rumah yang bersebelahan dengan gereja justru membuat saya lebih nyaman dalam beragama. The feeling of being welcomed and embraced despite of my differences, gave me the sense of peace. Sungguh nikmat menjadi berbeda. Patut disayangkan, hanya karena kita di Indonesia adalah mayoritas, maka kita menjadi jumawa dan mengesampingkan perasaan orang lain dan hak-hak mereka untuk merasa damai.

Tidak semua orang bisa berkesempatan seperti saya untuk merasakan nikmatnya berdamai dengan perbedaan. Tapi saya yakin kalau saya nggak sendirian dalam hal ini. Rasanya, kalau kita bisa bergerak bersama dalam mempromosikan nikmatnya perbedaan dan indahnya perdamaian, sedikit demi sedikit kita dapat menggerakkan hati lebih banyak orang.

No comments:

Post a Comment