Beruntunglah kita yang hidup di Indonesia karena
sesungguhnya kita menikmati kebebasan yang seluas-luasnya. Oleh karenanya, saya
sering bingung kalau masih saja ada orang-orang warga negara kita yang
menjelek-jelekkan negara ini atau pemimpinnya. Mereka dengan bangga
membanding-bandingkannya dengan negara-negara Islam dan yakin bahwa itulah yang
sebaik-baiknya negara di dunia. Negara-negara dimana perempuan tidak bisa
sekolah, negara dimana perempuan tidak bisa menyetir mobil sendiri, negara
dimana perempuan tidak diperkenankan bepergian sendiri.
Sungguh lucu kalau melihat kefanatikan manusia-manusia
seperti ini sehingga menjadikan mereka bodoh. Bodoh, karena mereka seolah-olah
tidak pernah membaca sejarah Islam atau dengan sengaja mengabaikannya.
Perempuan adalah bagian penting dalam sejarah Islam. Istri
Rasulullah SAW yang paling sering disebut namanya adalah Khadijah R.A. Kita
semua tahu kalau saat beliau hidup, perempuan mulia ini menguasai perniagaan
yang besar di Mekkah. Khadijah adalah seorang entrepreneur yang membawahi
banyak karyawan laki-laki, termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad SAW
sebelum mereka menikah. Sungguh menggelikan jika ada orang-orang yang
menganggap perempuan tidak pantas dijadikan pemimpin, sementara Rasulullah
tidak pernah mempermasalahkannya, malah menikah dengan “boss” nya. Siapa bilang
juga kalau kita tidak bisa mendobrak adat?
“…Khadijah lah yang
lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Dia, yang pada saat itu
bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang
pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah
Binti Munyah, 'Atiqah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad (SAW) yaitu
Abu Thalib…” (https://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid)
Pada saat itu Khadijah sudah memulai usaha agar perempuan
bisa mempunyai pendapat sendiri dan bisa memutuskan yang terbaik buat dirinya
sendiri. Ketika sekarang perempuan harus tunduk kepada kemauan suaminya,
ayahnya atau saudara-saudara laki-lakinya, hal ini merupakan kemunduran lebih
dari seribu tahun.
Kita sering mendengar cerita-cerita tentang tokoh-tokoh
perempuan Islam di jaman Rasulullah dan dengan bangga menceritakannya kembali,
tapi sedikit yang mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut. Ingatkah kita
akan cerita dari Khawlah binti Azwar, pejuang perempuan di jaman perang merebut
Damaskus? Terus terang, saya anti peperangan dan anti kekerasan, tapi Khawlah
adalah perempuan luarbiasa yang mengambil begitu banyak “peran laki-laki.” Jago
pedang dan jago berkuda. Namanya tercatat dalam tinta emas sejarah Islam. Sungguh
sayang jika kita memuji kepahlawanan perempuan yang jago berkuda ini, tapi kita
tidak membolehkan perempuan untuk menyetir dan bepergian sendirian kemana-mana.
Kesetaraan perempuan dan laki-laki jelas tercatat dalam
sejarah Islam, namun adat kita yang sangat patriarki seolah-olah membuat kita
menyingkirkan pengakuan terhadap kesetaraan ini. Kisah tentang Nailah binti
al-Farafishah, istri Utsman bin Affan, misalnya. Alih-alih membesarkan cerita
tentang intelektualitas perempuan ini, yang dibesarkan justru adalah tentang
pengabdiannya kepada suami. Seolah-olah perempuan kerjaannya hanyalah untuk
mengabdi pada suami. Nailah binti al-Farafishah adalah seorang perempuan dengan
daya intelektual tinggi, sehingga menjadi teman Ustman bin Affan untuk bertukar
pikiran dalam berbagai hal. Dari berbagai literatur saya mendapatkan kutipan
dari sang suami “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya
dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” ujar Utsman bin
Affan. Jika khalifah sahabat Rasulullah saja mendukung dan memuji kepandaian
istrinya, siapakah kita yang berani bilang kalau perempuan itu tidak harus
pintar? Kenapa kita harus mendukung pendapat yang menyatakan bahwa perempuan
itu first and foremost adalah harus
taat kepada suami dengan menyampingkan hal-hal lain? Seolah-olah perempuan
hanya objek tanpa pernah menjadi subjek.
Buat kalian-kalian yang menganggap hukum di Saudi Arabia
atau di Afghanistan adalah yang terbaik, silakan berpikir lagi. Apakah mereka
benar-benar telah mengamalkan apa yang telah dicontohkan di jaman Rasulullah
SAW atau sekedar mengklaim bahwa yang mereka lakukan adalah Islami.
...asyikkkk, mang Chorie punya blog. maaf OOT :-)
ReplyDeleteFeminist kaleh ...
ReplyDeleteFeminist kaleh ...
ReplyDeleteKeren Chorry tulisannya. Aku katolik yg cinra damai menghormati dan bangga dg orang2 yg pikirannya terbuka dan bijak dlm menyampaikan opini ke masy.
ReplyDeleteKeren Chorry tulisannya. Aku katolik yg cinra damai menghormati dan bangga dg orang2 yg pikirannya terbuka dan bijak dlm menyampaikan opini ke masy.
ReplyDeleteLOVE!
ReplyDelete