Monday, July 18, 2016

Perempuan dan Islam

Beruntunglah kita yang hidup di Indonesia karena sesungguhnya kita menikmati kebebasan yang seluas-luasnya. Oleh karenanya, saya sering bingung kalau masih saja ada orang-orang warga negara kita yang menjelek-jelekkan negara ini atau pemimpinnya. Mereka dengan bangga membanding-bandingkannya dengan negara-negara Islam dan yakin bahwa itulah yang sebaik-baiknya negara di dunia. Negara-negara dimana perempuan tidak bisa sekolah, negara dimana perempuan tidak bisa menyetir mobil sendiri, negara dimana perempuan tidak diperkenankan bepergian sendiri.

Sungguh lucu kalau melihat kefanatikan manusia-manusia seperti ini sehingga menjadikan mereka bodoh. Bodoh, karena mereka seolah-olah tidak pernah membaca sejarah Islam atau dengan sengaja mengabaikannya.

Perempuan adalah bagian penting dalam sejarah Islam. Istri Rasulullah SAW yang paling sering disebut namanya adalah Khadijah R.A. Kita semua tahu kalau saat beliau hidup, perempuan mulia ini menguasai perniagaan yang besar di Mekkah. Khadijah adalah seorang entrepreneur yang membawahi banyak karyawan laki-laki, termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad SAW sebelum mereka menikah. Sungguh menggelikan jika ada orang-orang yang menganggap perempuan tidak pantas dijadikan pemimpin, sementara Rasulullah tidak pernah mempermasalahkannya, malah menikah dengan “boss” nya. Siapa bilang juga kalau kita tidak bisa mendobrak adat?

“…Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Dia, yang pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah, 'Atiqah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad (SAW) yaitu Abu Thalib…” (https://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid)

Pada saat itu Khadijah sudah memulai usaha agar perempuan bisa mempunyai pendapat sendiri dan bisa memutuskan yang terbaik buat dirinya sendiri. Ketika sekarang perempuan harus tunduk kepada kemauan suaminya, ayahnya atau saudara-saudara laki-lakinya, hal ini merupakan kemunduran lebih dari seribu tahun.

Kita sering mendengar cerita-cerita tentang tokoh-tokoh perempuan Islam di jaman Rasulullah dan dengan bangga menceritakannya kembali, tapi sedikit yang mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut. Ingatkah kita akan cerita dari Khawlah binti Azwar, pejuang perempuan di jaman perang merebut Damaskus? Terus terang, saya anti peperangan dan anti kekerasan, tapi Khawlah adalah perempuan luarbiasa yang mengambil begitu banyak “peran laki-laki.” Jago pedang dan jago berkuda. Namanya tercatat dalam tinta emas sejarah Islam. Sungguh sayang jika kita memuji kepahlawanan perempuan yang jago berkuda ini, tapi kita tidak membolehkan perempuan untuk menyetir dan bepergian sendirian kemana-mana.

Kesetaraan perempuan dan laki-laki jelas tercatat dalam sejarah Islam, namun adat kita yang sangat patriarki seolah-olah membuat kita menyingkirkan pengakuan terhadap kesetaraan ini. Kisah tentang Nailah binti al-Farafishah, istri Utsman bin Affan, misalnya. Alih-alih membesarkan cerita tentang intelektualitas perempuan ini, yang dibesarkan justru adalah tentang pengabdiannya kepada suami. Seolah-olah perempuan kerjaannya hanyalah untuk mengabdi pada suami. Nailah binti al-Farafishah adalah seorang perempuan dengan daya intelektual tinggi, sehingga menjadi teman Ustman bin Affan untuk bertukar pikiran dalam berbagai hal. Dari berbagai literatur saya mendapatkan kutipan dari sang suami “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” ujar Utsman bin Affan. Jika khalifah sahabat Rasulullah saja mendukung dan memuji kepandaian istrinya, siapakah kita yang berani bilang kalau perempuan itu tidak harus pintar? Kenapa kita harus mendukung pendapat yang menyatakan bahwa perempuan itu first and foremost adalah harus taat kepada suami dengan menyampingkan hal-hal lain? Seolah-olah perempuan hanya objek tanpa pernah menjadi subjek.


Buat kalian-kalian yang menganggap hukum di Saudi Arabia atau di Afghanistan adalah yang terbaik, silakan berpikir lagi. Apakah mereka benar-benar telah mengamalkan apa yang telah dicontohkan di jaman Rasulullah SAW atau sekedar mengklaim bahwa yang mereka lakukan adalah Islami.

6 comments:

  1. ...asyikkkk, mang Chorie punya blog. maaf OOT :-)

    ReplyDelete
  2. Keren Chorry tulisannya. Aku katolik yg cinra damai menghormati dan bangga dg orang2 yg pikirannya terbuka dan bijak dlm menyampaikan opini ke masy.

    ReplyDelete
  3. Keren Chorry tulisannya. Aku katolik yg cinra damai menghormati dan bangga dg orang2 yg pikirannya terbuka dan bijak dlm menyampaikan opini ke masy.

    ReplyDelete